Kera Bukan Manusia

Benar saja. Mereka mana paham sosial kemanusiaan (?) Bukankah musuh-musuh Allah terdahulu telah dikutuk menjadi kera-kera yang hina? Lalu hingga kematian datang menjemput, mereka berakhir dalam kehinaan?
Dan sejak dahulu kala hingga kelak dunia tiada, bukankah kera ialah binatang dan bukan manusia? Meski mereka yang terkutuk telah enyah, namun bukankah sifat-sifat yang demikian masih ada dalam diri musuh-musuh Allah hingga sekarang?
Maka tidak heran ketika mereka yang serupa kera-kera yang hina menghinakan manusia dan kemanusiaan. Bukan karena mereka lebih mulia melainkan karena mereka tidak paham apa itu manusia terlebih kemanusiaan.
Kera-kera yang hina tidak akan paham bagaimana Allah Yang Maha Menciptakan memuliakan makhluk berjenis manusia melebihi segala makhluk ciptaan-Nya. Kera-kera yang hina tidak akan pernah paham apa dan bagaimana sosial kemanusiaan bukan (?)
Ketika manusia sudah dimuliakan dengan kemanusiaannya, apa kata yang tepat jika manusia —yang seharusnya mulia ini— mengikuti langkah kera-kera yang hina? Apakah bisa dikatakan mereka —yang mengikuti kerakera yang hina itu— lebih hina dari kera-kera? Entahlah. Allahua’lam.

Klaten, 19 Ramadhan 1440 H / 24 Mei 2019

20.37

Astaghfirullah wa na’udzubillah. Semoga Allah melindungi kita semua dari fitnah akhir zaman yang semakin jelas di depan mata. Semoga Allah meneguhkan hati kita di atas agama-Nya. 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Iklan

Review Buku : Belajar Mencintai – Azhar Nurun Ala

IMG_0621.JPG

Padahal, kalau kita belajar memasak dengan baik, aneka bahan makanan bisa diolah menjadi masakan lezat. Kalau belajar melukis dengan sungguh-sungguh, objek apa pun bisa jadi karya seni yang tak ternilai. Dengan membangun kemampuan mencintai, siapa pun orangnya, bagaimanapun latar belakangnya, di mana pun dirinya sekarang, kita siap mewujudkan rumah tangga yang bahagia.

Sepenggal paragraf di atas ialah paragraf terakhir blurb buku Belajar Mencintai karya terbaru Azhar Nurun Ala. Buku setebal 254 halaman ini sudah menyentak saya bahkan sebelum saya membukanya. Membaca blurb tersebut membuat saya tersadar bahwa poinnya bukan pada bahannya, tapi pada kokinya. Poinnya bukan pada Baca lebih lanjut

Resensi Buku : Maybe Everything – Alicia Lidwina

Identitas Buku
Judul Buku          : Maybe Everything

Penulis                 : Alicia Lidwina

Penerbit               : PT. Gramedia Pustaka Utama

Jumlah halaman: 136 halaman

Dimensi buku     : 20 cm

Cetakan                : I

Tahun terbit        : 2018

ISBN                      : 978-602-03838-4-2

Sinopsis Buku

A dead star–that’s what I am. Baca lebih lanjut

Review Buku : Di Balik Runtuhnya Turki Utsmani – Deden A. Herdiansyah

Ada banyak alasan untuk tertarik pada Turki Utsmani, di antaranya: Turki Utsmani merupakan imperium yang memiliki usia sangat panjang dan wilayah yang sangat luas sekaligus kekhalifahan umat Islam yang terakhir. Setelah keruntuhannya, umat Islam terbagi dan tersekat oleh batas teritorial. Ironisnya, batas-batas itu juga membagi-bagi hati umat Islam. Perpecahan dan permusuhan di antara umat Islam menjadi pemandangan umum yang menyesakkan.

Sepenggal paragraf tersebut ialah potogan blurb buku Di Balik Runtuhnya Turki Utsmani karya Deden A. Herdiansyah. Buku yang diterbitkan Pro-U Media pada tahun 2016 ini saya pilih untuk memenuhi tantangan membaca buku tema Sejarah dalam RCO 5 Level 3. Alhamdulillah, menyimak 232 halamannya tidak mendatangkan kecewa. Bahkan buku ini melebihi ekspektasi saya.

Di akhir blurb, tertulis bagi siapa pun yang memiliki perhatian terhadap sejarah Islam, gerakan clandestine dan konspirasi; maka buku ini layak untuk menjadi teman Anda. Judul buku yang sudah cukup menarik ditambah penutup blurb yang menjanjikan pemahaman lebih membuat buku ini sulit untuk ditolak.

Baca lebih lanjut

Review Buku : Dahlan Iskan Sang Pendobrak – S.H. & A.G.M.

IMG_20190219_012219_694.jpg

Dahlan Iskan, seorang laki-laki yang berasal dari Dukuh Kebondalem, Desa Tegalarum, Kecamatan Bendo, Magetan ini lahir di tengah masyarakat majemuk, religius, agamis namun masih banyak praktek budaya kejawen. Dahlan merupakan kata serapan dari bahasa Arab “Dakholan” yang artinya terobosan. Kata tersebut jika digunakan sebagai subjek maka berubah menjadi “Daakhilun” yang artinya pembuat terobosan, pendobrak, atau pembuka jalan pencerahan.

Ia lahir pada tahun 1951. Sedang tanggal dan bulannya, ia dan orang tuanya mengaku tak ingat. Sebenarnya dulu Baca lebih lanjut